27an April 2011

Pray for The World Disaster

Oleh: Wawan S. Husin

Benda angkasa berwarna biru yang begitu molek dilihat dari arah bulan sungguh indah nian. Dengan berlatar warna hitam pekat alam semesta, ditaburi titik titik bintang gemintang, tak pelak lagi begitu indah dan anggun dipandang mata. Kebiruan yang mempesona ini ternyata hanya “bagus” dipandang di kejauhan saja.

Memasuki abad 21 yang baru 10 tahun 4 bulan (sepersepuluh abad) ternyata tidak seindah dalam pandangan.  Banjir, karena hutan ditebang, sungai meluap, erosi, abrasi, tanah longsor, sudah menjadi berita sehari-hari. Gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan karena ulah manusia telah pula mendera planet bumi. Terakhir gempa bumi Fukushima (8,9 skala richter) di bulan Maret 2011 ditambah dengan Tsunami yang menyertainya menjadikan manusia menderita. Puncaknya adalah kebocoran PLTN di Fukushima yang sampai sekarang masih mengancam, khususnya orang-orang di sekitar PLTN itu dan umumnya, geografi Jepang atau mungkin bahkan di tingkat dunia(!)

Dalam kasus Indonesia, tsunami besar di Aceh, Lapindo Brantas dan lahar panas serta lahar dingin gunung merapi telah menjadikan manusia tak hanya menderita, tetapi juga dipaksa untuk memikirkan kembali kehadirannya di bumi. Sebut saja, badai salju di Eropa dan Amerika, gempa di China, Pakistan, ditambah berkurangnya gletser yang ada di kutub utara. Mengambang di lautan dan hilang menjadi air lautan adalah “kisah sedih” yang mesti di hadapi spesies manusia. Terakhir perang di timur tengah apapun alasannya, apapun motifnya.

Pertanyaan-pertanyaan seperti: Siapakah manusia abad 21? Bagaimanakah kondisi geografis planet bumi, Sampah nuklir, Perang dan penyakit itu sesungguhnya? Apakah yang telah dilakukan manusia saat ini di bumi? Memanjangkan umur bumi atau memendekan umur bumi, membangun kultur dan peradaban ataukah sebaliknya, menghancurkan. Dalam konstelasi planet-planet disekeliling matahari, apakah planet bumi sedang memendekan umurnya karena ulah manusia? Di dalam galaksi bima sakti apakah kehancuran bumi akan merubah planet-planet lainnya? Ataukah ada dan tiadanya planet bumi tidak mengganggu bima sakti.

Ada saatnya kita merenungkan bencana-bencana di bumi untuk mengkaji ulang kembali siapakah manusia dan kebajikan apakah yang telah dan sedang dilakukan pada planet bumi. Bencana penghancuran dunia (The World Disaster) nampaknya menjadi amat mengemuka jika memang manusia berpikir bahwa dia/kita adalah bagian dari misteri alam semesta ini. The pray for the world disaster adalah ruang jeda untuk menciptakan jarak dengan dunia  lewat merenungkan bencana  yang terjadi, kita menyapa kembali alam semesta. Menyapa kembali manusia abad 21. Menyapa kehidupan. Syukur syukur masing-masing dari kita dapat belajar banyak dari kesalaha-kesalahan tindakan dimasa lalu. Syukur-syukur kesementaraan bisa memahami ke-Maha AbadianNya.

Semoga!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s